Cecimpedan
TEMPO
dulu, waktu luang anak-anak dan muda-mudi kadang-kadang diisi
dengan macecimpedan yakni bermain teka-teki. Cecimpedan menjadi
sebuah mode pergaulan. Melalui macecimpedan mereka dapat
memperluas pergaulan, merasa terhibur dan juga menjadi ukuran
kepandaian dan gengsi seseorang. Seorang remaja yang tidak siap
berteka-teki akan bengong saja. Oleh karena itu, seorang anak
atau remaja berusaha membekali dirinya dengan beberapa buah
cecimpedan.
Cecimpedan asal katanya
cimped artinya bade atau tebak. Di-dwipurwa-kan menjadi cecimped
dan mendapat akhiran an menjadi cecimpedan. Pada awalnya,
cecimpedan itu dinyatakan dengan kalimat-kalimat prosa dalam
bentuk pertanyaan yang tradisional dan jawaban yang tradisional
pula. Jadi pertanyaan maupun jawaban itu tidak boleh menyimpang
dari kebiasaan yang sudah berlaku. Akhir-akhir ini teka-teki
tradisional itu banyak yang digunakan ke dalam bentuk lagu.
Usaha tersebut sah-sah saja, bahkan menambah kentalnya pergaulan
di antara anak-anak dan remaja.
Cara Memainkan
Adu teka-teki itu dilakukan oleh dua orang atau dua kelompok
yang "berseteru". Salah satu kelompok memulai
mengajukan pertanyaan. Misalnya kelompok A: "Apa cekuk
kajengitin?" (Benda apa yang dicekik lalu diberi senyum
dengan memperlihatkan gigi?) Kelompok B mendapat kesempatan
beberapa saat menyusun jawabannya. Kalau ia menjawab dengan
caratan (kendi) berarti jawabannya benar. Apabila kelompok B
tidak bisa menjawab atau jawabannya salah, maka ia wajib nebusin
yaitu membalas dengan teka-teki pula. Seandainya cecimpedan
nebusin itu tidak terjawab oleh kelompok A, berarti kedua
kelompok itu sapih -- tidak menang kalah. Akan tetapi apabila
cecimpedan nebusin itu terjawab oleh kelompok A, maka skor 1-0
untuk kelompok A.
Selanjutnya giliran
kelompok B yang mengeluarkan cecimpedan. Kelompok A bertugas
made (menebak) atau kalau gagal, nebusin. Demikian seterusnya
sehingga permainan berakhir dengan sapih atau salah satu
kelompok menang. Belakangan ini muncul cecimpedan yang
dinyanyikan. Isinya bukan saja teka-teki yang tradisional,
tetapi juga teka-teki baru yang mungkin berasal dari luar Bali.
Menggubah cecimpedan menjadi nyanyian dimaksudkan agar suasana
bermain itu tidak menjemukan, dapat menggugah rasa keindahan dan
tentu saja mendorong kreativitas. Memang dalam pergaulan
anak-anak dan remaja di Bali selalu saja muncul kreativitas seni.
Cobalah jawab beberapa
contoh cecimpedan yang dilagukan berikut ini;
(1). Raka Rai ya makulkul matumbak
Kulkul malu tumbake jang si duri
Mangkin bade cecimpedan puniki
(2). Raka Rai ya
melingeb nungkayak
Melingeb misi nungkayak puyung gati
Mangkin bade cecimpedan puniki
(3). Raka Rai ya
meroang mamusuh
Cerik roang di kelihne mamusuh
Mangkin bade cecimpedan puniki
* Made Taro
|