kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 30 Mei 2002

 NUSANTARA


VCD Porno dalam ''Casting'' Sabun Mandi

Sang Model Mengaku hanya Pamer ''Sekwilda''

Jakarta dan Bandung heboh lagi. VCD porno gaya iklan sabun mandi beredar dan meresahkan masyarakat. Sebelumnya VCD porno gaya Itenas juga menggegerkan. Sembilan wanita cantik mengaku dijebak. Awalnya ditawari sebagai bintang iklan, eh... tak tahunya dijadikan bintang porno. Akibatnya, polisi menelusurinya dan memasukkan satu per satu pelakunya ke sel.

TIBA-TIBA lantai 12 Gedung Surya, Jalan MH Thamrin, Jakarta disesaki wartawan. Seorang dara cantik, berbodi montok, duduk tak tenang. Mengenakan t-shirt press body dari bahan katun, warna kuning, gadis berambut ala Demi Moore ini ancang-ancang akan buka kartu penting tentang apa yang baru saja dilakukannya.

''Nama saya, Melvi Noviza (20),'' katanya sambil melirik ke pengacaranya, Desri Novian, S.H. Wartawan sudah mengetahui, Melvi-lah gadis yang wajahnya di-close up dalam VCD porno, casting iklan sabun mandi, bersama delapan gadis lain dalam pose bugil.

''Saya tidak tahu. Dalam casting, pose saya wajar-wajar saja,'' demikian Melvi memberi keterangan bantahan. Ada tekanan batin yang dirasakan Melvi. Pada 23 Mei lalu, ia bersama pengacaranya mendatangi Polda Metro Jaya. Ia mengadukan sejumlah orang yang telah membuat namanya tercemar. Melvi mengakui telah ikut casting sabun mandi bermerek C. Itu dilakukan di sebuah studio production house, di Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Tetapi, karena hasilnya berbeda, ia merasa tertipu.

''Saya ditipu dan dijebak. Saya harus mengembalikan nama baik saya dengan melaprokan kasus ini ke Polda,'' katanya sembab.

Ditipu? Ya. Hasil rekaman casting Melvi memang tak pernah masuk televisi. Rekaman itu justru muncul di internet dan di pasar VCD Glodok dan Bandung. Titel casting-an ini pun berubah 180 derajat. Sebab, bukan hanya gambar sabun, busa, dan kehalusan kulit Melvi yang muncul. Lebih dari itu, Melvi dkk. tampil bugil tanpa sensor di VCD dan internet. Merasa tidak terima, ia pun mengadukan hal ini ke Polda.

Sebagai model, Melvi mendapat tawaran casting. Membintangi iklan sabun mandi. Tawaran seperti ini sebuah hal lumrah bagi seorang model. Budi, pemilik sebuah agency yang menawarinya itu, pun memperlakukan Melvi bak seorang bintang iklan. Apalagi, honor yang ditawarkannya lumayan besar. Maka, syuting perdana pun dilakukan Juni 2000.

Saat syuting, Melvi mengaku tidak sampai bugil. Minimal sekwilda (sekitar wilayah dada) atau bupati (buka paha tinggi-tinggi). Dalam iklan sabun, itu hal biasa. Tetapi kalau bugil? ''Enggak sampai buka-bukaan banget,'' akunya. ''Saya wajar-wajar saja. Saya pikir iklan sabun ya... seperti itulah. Tetapi kok keluarnya seperti itu,'' sesal Melvi.

Syuting dilakukan sendirian. Tidak bersama model lain. Ini pengakun Melvi. Tetapi dalam VCD tergambar sembilan gadis model casting itu saling di-close up sehingga tampak satu. ''Saya disapa, tetapi saya tak tahu mereka itu siapa,'' tuturnya.

Yang membuat aneh Melvi adalah perilaku Budi usai syuting. Beberapa hari setelah syuting, Melvi diajak ke Australia. Hanya jalan-jalan wisata. Ia pun diajak akan dipertemukan dengan produser di pub atau kafe. Untung, Melvi menolak. ''Saya menolak karena ada iktikad tidak baik,'' akunya.

Menyesal? Tentu. Melvi menyangka casting itu adalah sebuah produksi iklan sabun beneran. Tidak penipuan, apalagi jebakan. Rupanya perkiraan Melvi nol besar. Melvi dan delapan gadis itu telah diperalat oleh mafia pembuat VCD porno. Selanjutnya, Melvi menyerahkan kasus ini ke pengacara dan Polda Metro Jaya. Ia merasa plong karena dirinya merasa tak melakukan adegan syur yang bisa membangkitkan syahwat itu. ''Saya berharap kasus ini segera selesai,'' akunya datar.

Sejumlah nama pun kemudian bermunculan di berkas pemeriksaan polisi. Di antaranya, George Irvan, Arifin atau Slamet Ardi Agung Priadi Arifin Hamid, Romi, Hengky, Lana, dan Dariel Togas. Nama-nama ini dianggap sebagai pelaku pembuatan VCD porno dan pengedarnya.

George ditangkap Polda di salah satu kantor sebuah TV nasional. Dia sebagai pengarah gaya. Kini dia tersangka. Romi ditangkap saat ketahuan mengedarkan VCD di Bandung. Sementara Arifin, sang kameraman, menyerahkan diri di Mapolwiltabes Bandung. Dia tak tahan dijadikan DPO polisi, sejak heboh VCD porno ini meletus sepekan kemarin. George mengaku tak mengarahkan para model bugil. Dia menyebut Arifin sebagai otak pembuatnya. Sebagai pengarah gaya, dirinya hanya mengarahkan satu orang bernama Helen. Selebihnya, ia tidak tahu. ''Oh no, saya hanya satu orang,'' aku pria bule ini.

Di depan penyidik, ia mengaku tidak sampai memaksa modelnya bugil. Tetapi, saat dirinya sudah masuk ke ruang studio, para model itu sudah setengah bugil. Karena merasa keberatan, ia pun bicara kepada Arifin. Protes maksudnya. Tetapi, Arifin mengaku akan diedit. George pun diam. Karena hasil di pasaran tanpa diedit, George pun merasa dijebak. ''Saya dijebak. Ternyata tidak diedit,'' akunya polos.

Romi, warga Sekeloa Bandung, juga ditangkap. Dia diduga sebagai pengganda VCD itu. Disita 10 VCD dari tangannya. Sebuah diberi label harga Rp 30 ribu. Bisa naik jika persediaan terbatas dan permintaan membengkak. Hukum ekonomi berlaku. Diduga ribuan keping VCD beredar luas di pasaran, baik Bandung maupun Jakarta. Jajaran Polwiltabes Bandung telah membongkar jaringan pengganda ini setelah tertangkapnya Romi.

Lalu bagaimana Arifin. Dia menyerahkan diri di Poltabes Bandung. Diakuinya, VCD itu produksi PT Indochroma yang beralamat di Percetakan Negara IX Jakarta Pusat. Dekat Rutan Salemba. Pemilik PH itu, aku Arifin, Hengky, Lana Togas dan kakaknya, Dariel Togas. Ketiganya diduga ikut menyutradarai adegan para bintang itu.

Apa yang diakui Arifin dalam pemeriksaan di depan penyidik cukup mengejutkan. Sebab, ia menyatakan George Irvan adalah manajer PT Indochroma. Bahkan, dialah yang menyuruh Arifin mencari model yang cantik dan seksi. Arifin sendiri hanya karyawan biasa.

Arifin bekerja di perusahaan ini sejak 1991. Pada pertengahan September-Oktober 2000 datang seorang klien. Dia minta dibuatkan kalender. Kebetulan Hengky dan Lana Togas ke Australia. Perusahaan diserahkan ke George Irvan. Arifin pun menyampaikan maksud order ini ke George. Arifin pun diminta mencari modelnya. Budi, sebagai pemilik agency model, dihubungi dan dilakukan kesepakatan.

Arifin mengaku mendapat model bernama Cut Nadira. Model cantik. Selanjutnya sejumlah model di-casting Arifin. Kasetnya direkam dan disimpan oleh Dariel dan Lana Togas. Arifin tak tahu lagi bagaimana prosesnya. ''Saya baru tahu pada 14 Mei kalau casting itu beredar di masyarakat,'' akunya. ''Saya geram dan sedih. Masak saya dikatakan sebagai dalang pembuat VCD-nya,'' aku Arifin gamang. Agar tak berlanjut, ia pun menyerahkan diri. Kini, Arifin disel di tahanan Polwiltabes Bandung.

* Heru B. Arifin

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)


Info VALAS