Lebih jauh
tentang ''Sugihan''
Saatnya Mulai Mengurangi Aktivitas
Duniawai
HARI
raya Galungan diperkirakan sudah ada di Indonesia sejak
abad XI. Hal ini didasarkan atas beberapa fakta yang
termuat dalam kidung Panji Malat Rasmi dan Lontar
Pararaton di Kerajaan Majapahit. Di India perayaan semacam
ini dinamakan hari raya Crada Wijaya Dasami. Di Bali,
keberadaaan hari raya Galungan beserta rangkaiannya
dipertegas lagi dalam Lontar Jayakasunu yang ada pada era
pemerintahan Raja Sri Jayakasunu. Sebelumnya perayaan
Galungan sempat ditiadakan yang ternyata mengakibatkan
banyak rakyat pada waktu itu mengalami penderitaan.
Hari raya Galungan
seperti diketahui memiliki rangkaian yang dimulai jauh
sebelum hari raya itu sendiri. Dimulai dengan hari Tumpek
Wariga dan selanjutnya menjelang seminggu sebelum Galungan,
dikenal dengan sugihan.
Dengan demikian bisa
dikatakan sugihan termasuk salah satu rangkaian upacara
menyongsong Galungan. Sugihan terdiri atas tiga jenis
yaitu Sugihan Pangenten atau Sugihan Tenten, Sugihan Jawa
dan Sugihan Bali. Karena mengikuti perhitungan wuku,
masing-masing sugihan datang tiap 210 hari sekali. Ketiga
sugihan secara berturut-turut dimulai dari Buda Pon wuku
Sungsang (yang jatuh pada Rabu 17/4 hari ini-red) disebut
Sugihan Pangenten. Setelah Sugihan Pangenten, diikuti
dengan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali.
Sugihan Pangenten
bermakna ngingetin atau mengingatkan. Dalam mitologinya
berhubungan dengan keadaan Mpu Bradah ke Bali menghadap
pada Empu Kuturan dan usaha untuk mengangkat salah satu
putra Raja Erlangga untuk menjadi raja di Bali. Namun,
Empu Kuturan menolak permintaan tersebut dan Empu Baradah
pun tersinggung lalu langsung meninggalkan tanpa permisi
untuk kembali ke Daha.
Ketersinggungan Mpu
Baradah ini menimbulkan bhuta sebagai akibat lepasnya
pengendalian diri. Karena itulah, diingatkan supaya
pengendalian diri itu jangan sampai lepas agar bhuta kala
dapat dikendalikan. Sejak Sugihan Pangenten inilah mulai
dimasukkan sebagai Nguncal Balung yaitu dari wuku Sungsang
sampai wuku Pahang, terutama sejak wuku Dungulan sampai
dengan Buda Kliwon Pahang.
Nguncal balung
artinya tulang sebagai pengukuh tubuh pada manusia dan
binatang serta tempat melekatnya otot dan daging. Tanpa
tulang, tubuh tidak akan mempunyai kekuatan. Nguncal
balung maksudnya melepaskan kekuatan-kekuatan yang
bersifat negatif yang mudah dipengaruhi oleh godaan sang
kala tiga, dengan sifat-sifat kalanya, sehingga kembali ke
wujud semula atau Sang Hyang Tiga Wisesa.
Dalam Siwaisme
disebut Siwa, kala dalam hal ini berarti energi atau
kekuatan. Sang Hyang Kala Tiga dalam wujud purusha (Kala
Rudra) maupun dalam wujud pradana (Durga Murti), sehingga
kembali dalam keadaan somia (tenang). Keadaan somia akan
berpengruh terhadap semua ciptaannya.
Oleh sebab itu, pada
saat nguncal balung ini kurang baik melakukan
pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti membuat rumah, tempat
pemujaan termasuk penyuciaannya, membangun rumah tangga (kawin)
dan sebagainya. Di samping itu, ada pula yang tidak mau
membeli ternak untuk dipelihara atau dijadikan bibit.
Demikianlah
pantangan-pantangan selama nguncal balung, yang pada
dasarnya lebih banyak bertujuan mengurangi
aktivitas-aktivitas jasmani agar dapat meningkatkan
aktivitas rohani. Misalnya yang dilakukan oleh pertapa
atau yogi. Orang kebanyakan dalam mengurangi aktivitas
fisiknya dan lebih menekankan pada kegiatan ritualnya
dapat melakukan kegiatan yang bersifat menambah
pengetahuan tentang agama, kesenian, dan kemasyarakatan.
Dengan kegiatan ini diharapkan umat Hindu dapat mengurangi
hal-hal yang mengarah pada pemuasan hawa nafsu yang
berlebih-lebihan.
Aktivitas ''Ngelawang''
Salah satu cara
mencapai tujuan yang dimaksud, di beberapa daerah di Bali
pada saat Sugihan Pangenten ini melaksanakan kegiatan
ngelawang yaitu memakai barong dengan mengelilingi wilayah
desa adatnya. Malahan ada yang sampai ke luar jauh dari
wilayah desanya dengan melewati tiap lawang (pintu rumah
penduduk) agar bhuta dengan segala kekuatannya kembali ke
tempatnya yang semula.
Dalam filosofi
Hindu, munculnya para bhuta adalah akibat kekeliruan
pelaksanaan manusia dalam kehidupannya, sehingga pada saat
itu Dewa Trimurti menciptakan para bhuta. Dewa Brahma
diutus menjadi topeng bang, Dewa Wisnu menjadi telek dan
Dewa Siwa menjadi barong. Selanjutnya dalam ngelawang ini
barong itulah di-iring untuk menyelamatkan manusia
terhadap godaan para bhuta dalam kehidupannya.
Sehari setelah
Sugihan Pangenten disebut Sugihan Jawa. Makna sugihan ini
adalah hari penyucian bhuwana agung yang disimbolkan
dengan melakukan pemujaan di tempat-tempat suci dan
perumahan. Penyucian dimaksud dilakukan secara sekala dan
niskala. Bagi para wiku, sadaka, hal ini dilakukan dengan
mengucapkan japa mantra. Sedangkan para yogin melakukan
yoga semadi.
Selain penyucian
juga dilaksanakan pamretistan Batara kabeh, dengan upacara
marerebu di sanggah atau pemerajan yang dilengkapi dengan
upacara pembersihan atau pangeresikan. Memakai sarana
bunga harum. Adapun tujuannya adalah menstanakan para dewa
dan pitara.
Upakara-upakaranya
disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan bangunan suci yang
ada. Untuk palinggih termasuk di dalamnya padmasana, meru,
sanggah kemulan, taksu, panunggun karang dan lain-lainnya
yang sejenis memakai pembersih (pangeresikan) berupa
canang burat wangi lenga wangi, tirtha, dupa dilengkapi
dengan ajuman dan daksina (disesuaikan dengan desa kala
patra)
Palinggih yang lebih
kecil memakai canang burat wangi lenga wangi. Sementara
penyucian secara umum memakai pangerebuan yang terdiri
atas satu tumpeng guru dengan alas kulit sesayut yang
puncaknya diisi telur itik rebus, 3, 5, 7 buah tumpeng
biasa dilengkapi dengan jajan, buah-buahan dan sampyan
nagasari, sampyan peras. Dua sorohan alit 9 peras, tulung,
sesayut) sangga urip, penyeneng, lis, bebuu, pangeresikan,
canang genten, lauk, pauk/rerasmen yang terdiri atas
daging ayam dipanggang, guling itik atau babi yang
disesuaikan dengan kemampuan.
Jumlah tumpeng dan
dagingnya disesuaikan dengan jumlah palinggih yang akan
diupacarai marerebu. Misalnya untuk padmasana, sanggah
kemulan dan sejenisnya menurut tradisi tidak dibenarkan
memakai daging atau babi guling. Setelah dilaksanakan
pembersihan secara sekala barulah dilaksanakan pembersihan
secara niskala yaitu mengaturkan upacara pangerebuan.
Apabila mempergunakan sebuah pangerebuan, diusahakan
memakai guling itik yang terlebih dahulu diaturkan dari
bangunan suci yang paling utama. Misalnya dari padamasana
kemudian meru gedong taksu dan seterusnya sampai pada
bangunan yang kecil-kecil terakhir dilebar di jaba atau
halaman paling luar, disertai dengan segehan dan tetabuhan
arak berem.
Sugihan Bali
merupakan hari penyucian terhadap diri sendirri bhuwana
alit. Upacara khusus pada hari ini sebenarnya tidak ada.
Meski demikian, pada hari ini perlu dilaksanakan upacara
memohon tirtha pangelukatan kehadapan sang sadaka atau
sulinggih. Selain itu umat Hindu juga hendaknya melakukan
sembah sebagaimana layaknya pada hari-hari kajeng kliwon
yang lainnya. Semua pelaksanaan kegiatan sugihan ini
hendaknya dapat dilaksanakan sesuai desa kala patra.
* Winata
dari berbagai sumber
|